Showing posts with label Tips Guru. Show all posts
Showing posts with label Tips Guru. Show all posts

Wednesday, 21 December 2016

Prediksi Soal UKG Guru SD Moda Tatap Muka

Peran guru profesional dalam pembelajaran sangatlah penting sebagi kunci keberhasilan siswa. Pemerintah menindak lanjuti hasil UKG tahun 2015 mencetuskan suatu program yang disebut sebagai Guru Pembelajar (GP).

Pada program GP tersebut dibagi menjadi 3 moda yaitu : Moda Tatap Muka, Moda daring, dan Moda Daring Kombinasi. Dari ketiga moda tersebut penulis ambil salah satu yaitu Moda Tatap Muka khusus Modul B dan H kelas atas.

Bagi yang kebetulan pas dengan moda yang akan ditempuh bisa merujuk kepada prediksi yang akan keluar pada UKG nanti. Ingat ini hanya prediksi atau bocoran. Jika ingin sukses tentunya semua materi yang ada pada modul haruslah dipelajari karena disini penulis yakin 100% semua sudah ada pada modul masing-masing.

Prediksi soal UKG Moda Tatap Muka

Pada setiap modul akan ada 20 soal profesional dan 10 soal untuk pedagogik.

Modul B
Kompetensi Profesional
  • Pelajari cara mencari hitung KPK dan FPB, kemungkinan soal akan berbentuk soal cerita, ingat kata kunci mencari FPB atau KPK yan belum paham bisa di lihat pada Permainan Matematika yang Menyenangkan dalam Mencari KPK dan FPB
  • Pelajari Cara menghitung Bilangan Bulat, kemungkinan soal akan diajak menghitung naik turun atau lompat sana lompat sini dengan konsep bilangan bulat.
  • Perbandingan pecahan : bisa saja dengan pecahan langsung atau gambar yang akan digunakan
  • Konsep kuadrat bisa saja yang berhubungan dengan luas atau keliling
  • Konsep bilangan kubik yang berhubungan dengan volume kubus
  • Pecahan sebagai perbandingan, bisa saja yang ada kaitannya dengan umur atau banyak benda termasuk juga ada perbandingan senilai atau mungkin berbalik nilai.
  • Mengintepretasikan data dalam bentuk tabel seperti mencari data banyak siswa, median, modus, maupun rata-rata.
  • Mengintepretasikan data dalam bentuk diagram batang, garis, atapun lingkaran. Untuk lingkaran bisa saja yang digunakan persen atau derajat. Ingan kalau persen max 100 dan derajat max. adalah 360.
Kompetensi Pedagogik
  • Pelajari teori belajar dalam aliran Behaviorisme termasuk bagian-bagiannya seperti teori Pavlov, Thonrndike, Skinner dan teori yang lainnya
  • Pelajari teori belajar dalam aliran Kognitivisme termasuk juga pendukungnya seperti : Kognitif Piaget, Brunner, Ausubel, dan lainnya.
  • Teori belajar dalam aliran Konstruktivisme serta bagian-bagianya pula.
  • Prinsip-prinsip pembelajaran disini ada banyak prinsip yang di pelajari kemungkinan soal berbentuk kasus sehingga nanti diminta prinsip apa yang cocok.

Untuk kompetensi B ini haruslah pandai mengatur waktu agar jangan sampai waktu habis soal banyak yang belum terjawab. Bisa dibayangkan akan ada 20 soal yang berkutat dengan angka-angka.

Modul H
Kompetensi Profesional
  • Pelajari tentang Hak Asasi Manusia. Dari pengertian, dasar, manfaat, serta tata cara pengambilan keputusan.
  • Bentuk-bentuk keputusan bersama mulai dari keluarga, lingkungan, masyarakat, dan pemerintahan.
  • Sikap terhadap keputusan bersama : adil, jujur, tanggung jawab, toleransi, komitmen, setia, demokrasi
  • Landasan hukum penegakan HAM di Indonesia : Landasan Idiil (Pancasila), Landasan konstitusional (UUD 1945), dan Landasan operasional ( aturan-aturan pelaksana)
  • Undang-Undang Perlindungan HAM : Undang - undang Nomer 39 tahun 1999, Undang - undang RI nomer 23 tahun 2002
  • Undang-undang dan jaminan perlindungan anak
  • Hak asasi manusia yang terdapat pada UU No. 39 Tahun 1999 : Seperti hak untuk hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri, dan yang lainnya
  • Kasus-kasus pelanggaran HAM
  • Organisasi : mulai dari pengertian, unsur-unsur, bentuk-bentuk, jenis-jenis, macam-macam dan yang lainnya.
Kompetensi Pedagogik
  • Pembelajaran Remedial : Bagaimana cara melaksanakan pembelajaran remedial? Apa saja prinsip-prinsip pembelajaran remedial ? bisa dilihat di modul H.
  • Pembelajaran Pengayaan : Bagaimana pembelajaran pengayaan dilakukan? Kapan dilakukan pengayaan?
  • Pengolahan hasil penilian, mulai dari pengolahan penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ingat dalam pengolahan keterampilan pada Kurtilas (K-13) yang menjadi nilai adalah nilai optimunnya.
  • Deskripsi penilaian. Seperti apa deskripsi penilaian yang benar bisa dipelajari pada modulnya.

Demikian prediksi yang dapat di sampaikan kepada para Bapak/Ibu guru yang akan UKG. Disini bukan contoh soal yang di bahas tetapi hal-hal yang mungkin akan keluar pada tes nanti.

Ini adalah sebuah prediksi soal UKG yang bisa di pelajari apabila tidak ada waktu untuk mempelajari isi dari semua modul yang ada.

Jika ingin lebih maksimal tentunya apa yang terdapat pada modul masing-masing haruslah semua dipahami dengan seksama.

Friday, 16 December 2016

6 Hal Penting Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Keempat kompetensi guru haruslah benar-benar dimiliki setiap guru untuk sebagai bekal menjalankan tugasnya. Adapun keempat kompetensi tersebut adalah : (1) Kompetensi Kepribadian (2) Kompetensi Pedagogik (3) Kompetensi Profesional (4) Kompetensi Sosial. Secara spesifik artikel ini akan membahas 6 hal penting peran guru dalam proses pembelajaran.

peran guru dalam proses pembelajaran

Yuk kita simak ke 6 tersebut :

1. Guru Sebagai Sumber Belajar

Kepercayaan anak terhadap gurunya boleh dibilang melebihi dari orang tuanya sendiri. Apapun yang dikatakan di sekolah oleh gurunya walaupun seandainya salah akan terbantahkan oleh anak ketika diberi komentar oleh kakak atau bahkan orang tuanya.

Benar ungkapan yang selama ini kita dengar bahwa guru adalah yang patut di tiru dan di gugu. Berdasarkan ungkapan itu guru haruslah selalu tetap teliti terhadap apa yang dikatakan sebagai sumber belajar bagi anak.

2. Guru Sebagai Fasilitator

Namanya saja sebagai fasilitator tentu guru harus memfasilitasi setiap kebutuhan anak dalam menyelesaikan tugas belajarnya. Dengan tuntunan dari guru biarkan anak dapat memecahkan masalahnya. Disini guru banyak meyiapkan sumber dan media belajar yang relevan dengan tugas yang akan dikerjakan.

Sehingga anak bisa memanfaatkannya sumber belajar lain, tidak hanya guru yang bisa dijadikan sumber belajarnya. Seperti buku-buku lain, korang, majalah atau yang lainnyapun bisa dipakai media untuk belajar. Terkait guru sebagai fasilitator guru harus bersabar atas apa yang dikerjakan siswa. Peran disini antara guru dan anak-anak adalah teman.

3. Guru Sebagai Pengelola

Guru sebagai pengelola dalah hal ini pengaturan kondisi belajar sepenuhnya adalah tanggung jawab guru. Ini akan menjadi langkah awal keberhasilan siswa jika pengelolaan kelas sudah disiapkan dengan matang. Anak akan ada pada tahap kondisi yang wajar tanpa tekanan. Disini RPP adalah senjatanya. Disamping itu guru haruslah juga inspiratif. Baca : Bagaimana menjadi guru yang inspiratif?

4. Guru Sebagai Pembimbing

Anak tidak harus takut terhadap gurunya. Tunjukkanlah persahabatan bahwa disekolah atau dikelas kita sama-sama belajar. Yang namanya belajar tentu tidaklah takut untuk salah, dan salah itu adalah wajar selama kita berusaha untuk memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan itu kembali. Tuntunlah anak untuk bisa mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif.

5. Guru Sebagai Motivator

Proses pembelajaran akan berjalan secara optimal bilamana anak termotivasi untuk belajar. Untuk bisa berjalan secara penuh atau optimal guru haruslah kreatif dan inovatif. Lihat  Model-model pembelajaran inovatif.

Dengan demikian anak akan terbangkitkan motivasinya sehingga terbentuk prilaku belajar yang efektif. Salah satu yang bisa dilakukan adalah : (1) Sampaikan tujuan pembelajaran secara jelas pada anak. (2) Bangkitkan minat siswa (3) Ciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak (4) Berikan penghargaan yang cukup misalkan dengan pujian. (5) Dalam memberi penilaian haruslah yang objektif. (6) Ciptakan persaingan diantara teman-temannya.

6. Guru Sebagai Evaluator

Guru sebagai evaluator haruslah bersifat jujur, adil, dan objektif. Ketika ada anak yang merasa diperlakukan tidak adil tentu semangat siswa akan menurun. Apalagi jika ada yang beranggapan bahwa anak si A lebih sayang dari yang lainnya tanpa ada alasan yang jelas, pastilah akan melemahkan suasana dalam belajar.

Transfaransi dalam penilaian hendaknya sesekali perlu disampaikan kepada anak. Dalam penilaian hendaknya pula disampaikan bahwa tidak hanya secara kognitif saja yang di nilai, tetapi sikap, dan keterampilan pun secara berkala dan bekesinambungan peniaian tetap ada. Demikianlah 6 hal penting peran guru dalam proses pembelajaran.

Yang menjadi pertanyaan sudahkan Bapak/Ibu guru melakuakn ke 6 hal tersebut? Jika belum mulai saat membaca artikel ini Bapak/Ibu harus melakukannya.

Semoga Bermanfaat

Artikel terkait : Menjadi pengajar yang baik ada 10 hal yang harus dikuasai

Wednesday, 7 December 2016

Satu Langkah Praktis Menghadapi Kenakalan Anak SD

Masa-masa di bangku sekolah dasar merupakan salah satu bagian dari perjalanan usia manusia yakni pada usia 6 sampai 13 tahun.  Pada Usia ini memang merupakan hal yang sangat krusial terutama dalam menangi kenakalan yang dimiliki anak, dimana pada setiap anak tentunya mempunyai tingkat kenakalan yang berbeda-beda.

Banyak faktor yang mempengaruhi seperti misalnya : faktor didikan orang tua, lingkungan disekitar, disamping memang kebiasaan-kebiasaan jelek yang sulit diubah.


Untuk itu kemampuan seorang guru yang memadai dalam menangani anak SD yang memiliki perilaku khusus perlu dimiliki oleh setiap guru di Sekolah atau Madrasah. Cara penanganan anak yang memiliki kenakalan dapat dilakukan dengan pendekatan yang tepat bagi anak tersebut.

Pelaksanaan layanan bimbingan terhadap mereka yang mengalami gangguan dalam perkembangannya merupakan salah satu penanganan yang tergolong khusus. Artinya siswa yang tergolong memiliki gangguan pada level atas perlu diprioritaskan.

Alasan dipilihnya pendekatan yang tepat oleh guru dimaksudkan agar gangguan yang dialami anak dapat ditangani secara optimal dan guru mengenali benar gangguan yang sebenarnya.

Baca juga : Menjadi pengajar yang baik ada 10 hal penting harus di kuasai

Salah satu contoh kasus di sekolah :

Pada saat jam istirahat tiba-tiba para guru dikejutkan dengan laporan beberapa orang anak bahwa di kelasnya ada kehilangan uang sekitar Rp. 50.000. Akhirnya anak yang kehilangan uang itu menangis. Usut punya usut hingga sampai pada kesimpulan sementara (praduga tak bersalah) di panggilah anak yang dicurigai itu dimintakan keterangan-keterangan tentang uang Rp. 50.000 yang dipunyai.

Anak tersebut menyangkalnya dengan berbagai alasan yang memang masuk akal juga. Sampai pada guru walinya mengakatakan di kelasnya jika tidak ada yang mengaku mengambil uang temannya maka akan diserahkan kepolisi (begitu pura-pura dilakukan oleh seorang guru ).

Anak yang dicurigainyapun tetap dengan pendiriaanya bahwa ia tidak mengambil uangnya. Berselang beberapa lama karena masih saja belum berhasil, datanglah seorang guru lain yang mengajaknya ngobrol anak tersebut seperti tidak ada beban.

Anak tersebut didekati dengan sedikit nasehat-nasehat, diberikan kepercayaan bahwa jika memang benar mengambil dan mau mengaku tidak akan di publikasikan ke temannya-temannya daripada nanti jika benar mengambil tetapi tidak mau mengaku itu akan besar hukumnya.

Entah karena apa mungkin anak tersebut tersentuh hatinya dan mengakulah anak tersebut bahwa memang benar uangnya yang dibawa bukanlah uang miliknya, tetapi diambil dari tas temannya.

Berdasarkan kasus tersebut maka dapat diambil kesimpilan bahwa jika ingin menyelesaikan masalah kenakalan anak lakukanlah satu langkah praktis yaitu dengan pendekatan yang tepat. Mungkin pada setiap kasus anak dengan permasalahan yang sama pendekatannyapun tidak bisa sama.

Bisa saja pada contoh kasus diatas ketika diancam akan dilaporkan kepada polisi akan mengaku pada saat itu juga. Tapi kenyataannya tidak maka diambillah pendekatan yang lain yang lebih menyentuh hati anak.

Demikianlah sahabat onklikbaca. Semoga menjadi inspirasi dalam meningkatkan karakter anak

Artikel lainnya : Permainan matematika yang menyenangkan dalam mencari KPK dan FPB

Tuesday, 6 December 2016

Konsep Ukuran Panjang dan Keliling di SD

Pengajaran suatu konsep hendaknya harus ditanamkan setiap siswa sejak dini. Apalagi dalam matematika konsep adalah hal yang tidak bisa di sepelekan karena nantinya akan berkaitan dengan kematangan siswa itu sendiri dalam cara berpikirnya. Pengalaman bahkan banyak yang terjerumus karena konsep yang diterapkan tidak benar.

Konsep Ukurang Panjang dan Keliling di SD
Khusus untuk postingan kali ini akan dibahas tentang konsep pengenalan ukuran panjang dan ukuran keliling untuk SD

Artikel lainnya : Ciri - ciri bilangan yang habis dibagi 1 s.d. 9

1. Konsep Ukuran Panjang


Pembelajaran ukuran panjang di ajarkan sejak kelas 1 SD di perkenalkan tentang konsep dan teknik pengukuran secara sederhana, ditekankan pada membandingkan objek berdasarkan ukuran panjangnya dan didekati secara informal.

Misal pensil lebih panjang dari penghapus, spidol lebih pendek dari penggaris panjang, dan sebagainya.

Setelah pemahaman panjang objek dikuasai siswa, kemudian dilanjutkan dengan praktek mengukur panjang benda - benda di sekitar siswa dengan menggunakan satuan ukuran tidak baku sampai siswa memperoleh konsep panjang yaitu : panjang suatu benda adalah banyaknya satuan panjang yang dapat digunakan untuk menyusun secara sejajar dan berkesinambungan sepanjang benda tersebut.

Artinya benda yang kita pakai untuk mengukur berapa kali panjangnya benda yang diukur. Beberapa benda dapat kita gunakan sebagai satuan tidak baku, misal : pensil, klip, kertas, penghapus, tusuk gigi, batang korek api dan sebagainya.

Sebagai contoh mengukur panjang lidi seperti berikut :
Panjang lidi = 4 pensil (lebih sedikit) = 7 klip (kurang sedikit) = 5 batang korek api (kurang sedikit)

Contoh tersebut memberikan pengertian bahwa panjang lidi ditentukan oleh satuan pengukuran yang dugunakan. Sedangkan satuan yang digunakan disebut satuan tak baku (belum diketahui secara pasti ukurannya) Pembelajaran satuan ukuran baku (cm) dan (m) dimulai di kelas II SD.

Hendaknya siswa juga diajarkan memilih alat ukur yang sesuai untuk mengukur panjang benda yang diukur, misal : mengukur panjang kelas dengan tongkat 1 meteran, mengukur panjang buku tulis dengan ukuran cm, dan sebagainya. satuan ukuran baku lainnya dipelajari di kelas 3 dan 4.

2. Konsep Ukuran Keliling

Pembelajaran konsep ukuran keliling dapat dimulai dengan mengelilingi suatu lapangan atau mengitari suatu objek, sampai siswa paham : konsep keliling dengan praktek secara langsung.

Ukuran keliling suatu benda atau bangun adalah ukuran panjang dari benda itu dari titik awal pengukuran menelusuri seluruh tepian benda atau bangun itu hingga kembali ketitik awal pengukran. Untuk mencari keliling suatu bangun, bisa diperoleh dengan menambahkan semua panjang/sisi luar suatu bangun.

Cara mengukur keliling bangun datar diajarkan setelah pengenalan bangun dan pengukuran panjang objek dikuasai oleh siswa, kaena pada dasarnya pengukuran keliling bangun datar adalah pekerjaan mengukur panjang.

Baca juga : Konsep Hitung Pembagian Pecahan

Monday, 5 December 2016

Model - Model Pembelajaran Inovatif Beserta Langkah Praktis Penerapannya

Onklikbaca.com :  Perencanaan adalah suatu proses yang sangat penting. Guru yang gergelut di bidang pendidikan tentu sudah tidaj asing lagi apa yang namanya RPP. Setiap RPP dari a - z merupakan point-point penting yang saling berkaitan menjadi satu kesatuan yang utuh. Kegiatan awal, kegiatan inti, sampai kegiatan akhir pastilah sudah terperinci.

Model pembelajaran dan langkah penerapannya secara praktis

Untuk melengkapi hal itu model pembelajaran yang dipilih haruslah yang sesuai dengan apa yang akan diterapkan nantinya atau kemampuan  apa dari siswa yang ingin guru lihat.

Dari beberapa Model pembelajaran kali ini onklik perkenalkan model-model pembelajaran inovatif beserta langkah praktis penerapannya.

Yuk kita simak :
  1. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
  2. Langkah-langkahnya
    • Membagi dalam kelompok kecil (4-5 orang)
    • Memilih ketua kelompok
    • Membagi pembelajaran menjadi lima/enam segmen
    • Menugaskan siswa mempelajari semua tugas dalam kelompok
    • Membentuk kelompok ahli (baru) untuk setiap segmen yang sama, diskusi, dan menyiapkan presentasi
    • Mengembalikan siswa keklompok asal
    • Tim ahli dari setiap kelompok kembali ke kelompoknya, menyajikan, dan mendiskusikannya dalam kelompoknya
    • Evaluasi 
  3. Teaching Game Team (TGT)
  4. Langkah-langkahnya
    • Guru memberi penjelasan umum tentang materi pelajaran
    • Siswa di kelompokkan 5-6 orang
    • Selanjutnya siswa dapat mendiskusikan materi yang sudah disajikan dalam handout
    • Satu kelompok bertanya pada kelompok yang ditunjuk tentang materi pelajaran, kalau tidak terjawab dilempar ke kelompok lain tanpa penambahan nilai
    • Demikian bergantian saling bertanya antar kelompok
    • siswa dan guru mengevaluasi dan menyimpulkan pembelajaran
    • Evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan pembelajaran (proses dan hasil)
  5. Think Pair Share (TPS)
  6. Langkah-langkahnya
    • Siswa di kelompokkan 4 - 5 orang
    • Guru memberikan masalah yang dapat dipelajari dari buku/bahan cetakan (handout)
    • Siswa masing-masing memikirkan jawaban masalah
    • Siswa membagi pikiran dengan temannya dalam kelompok dan kelompok secara keseluruhan
    • Tuntas dalam kelompok, berbagi pemikiran dalam kelompok
    • Siswa bersama guru menyimpulkan jawaban terhadap masalah
    • Evaluasi proses dan hasil pembelajaran
  7. Number Head Together (NHT)
  8. Metode ini merupakan pengembangan dari Teaching Game Team dengan ciri pembelajaran kelompok melalui penyelesaian tugas dengan saling membagi ide. Tujuannya adalah meningkatkan intensitas diskusi dalam kelompok, kebersamaan, kolaborasi. Langkah-langkahnya :
    • Siswa dibagidalam dua kelompok, dimana siswa dalam kelompoknya memiliki nomor masing-masing.
    • Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok
    • Tugas diselesaikan kelompok, setiap anggota harus memahami jawaban tugas
    • Guru memanggil sisswa untuk menjawab tugas
  9. Example Non Example
  10. Langkah-langkahnya
    • Guru mempersiapkangambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
    • Guru menempelkan gambar di papan atau di tayangkan melalui LCD
    • Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar yang ditampilkan
    • Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa , hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
    • Tiap kelompok diberi kesempatan membaca hasil diskusinya 
    • Mulai dari kelompok/hasil diskusi siswa , guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
    • Kesimpulan
  11. Bertukar Pasangan
  12. Langkah-langkahnya
    • Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru bisa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya) 
    • Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas bersama pasangannya
    • Setelah tugas selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan yang lainnya.
    • Kedua pasangan tersebut bertukar  pasangan. Pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka masing-masing.
    • Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan sebelumnya kemudian dibagikan atau didiskusikan kembali kepada pasangan semula
  13. Tipe Round Robin Brainstorming
  14. Langkah-langkahnya
    • Guru membagi siswa kedalam kelompok 4 - 5 orang. Satu orang bertindak sebagai pencatat.
    • Guru mengajukan pertanyaan / masalah. Setiap kelompok mendapat giliran menjawab pertanyaan.
    • Siswa pencatat, mencatat semua jawaban dari setiap kelompok.
    • Hasil catatan didiskusikan bersama untuk memperoleh kesimpulan akhir
    • Evaluasi keberhasilan (proses dan hasil).

Jadi demikianlah model - model pembelajaran inovatif beserta langkah praktis penerapannya.

Jadi Bapak/Ibu guru sudah pakai yang mana niih?
Silahkan koment di bawah jika ada didiskusikan. Untuk model pembelajaran inovatif yang lain tunggu postingan berikutnya.

Baca juga : Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Friday, 2 December 2016

Menjadi Pengajar yang Baik ada 10 Hal Penting Harus Dikuasai

Onklikbaca.com : Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Tidak seperti pandangan negatif apa yang dikatakan orang guru hanya duduk atau memberikan tugas kepada siswa lalu selesai. Walaupun mungkin ada menurut pandangan onklikbaca tapi itu pastilah hanya secuil dari sekian juta guru yang ada.

Setiap guru pastilah punya trik-trik tersendiri untuk menghadapi kendala setiap siswa, baik dari segi afektif, kognitif, maupun psikomotor. Kadang walaupun kendala sama tapi belum tentu pemecahannya bisa sama karena banyak hal yang menjadi penyebab. Dukungan orang tua sangatlah penting sebagai upaya untuk menyeimbangkan peran guru dalam mendidik.


Guru adalah berjiwa besar, seberat apapun, senakal apapun anak didiknya pastilah selalu tersenyum, dan bersabar. Untuk itu pada kesempatan ini guna mencegah atau meminimalisir terjadinya suatu kesalahan/ kegagalan dalam mendidik ada 10 hal penting yang harus dikuasai sebagai pengajar yang baik.

Baca Juga : AD ART Komite Sekolah

Berikut penjelasannya :

1. Cintai mata pelajaran, dan tunjukkan pada siswa

Guru harus mencintai setiap mata pelajaran, terutama guru SD yang harus mengajar paling tidak 6 mata pelajaran di kelasnya.

2. Sajikan materi secara menarik

Materi yang menarik tentu sangatlah penting, ini akan bisa membangkitkan minat siswa dalam belajar. Model pembelajaran ataupun strategi yang digunakan secara monoton tidak akan membawa dampak yang signifikan. Guru perlu variasi supaya anak didik tidak bosan.

3. Ciptakan isu dan tema yang menarik minat siswa

Kadang isu juga berdampak sangat penting bisa dilakukan saat akan mulai pembelajaran. Isu bisa diciptakan berdasarkan keadaan yang ada sehingga lebih mudah juga untuk dipahami. (kontektual)

4. Ajukan pertanyaan dengan jawaban imajinatif, analisis, dan evaluatif

Dalam pembelajaran jika tidak ada tanya jawab tentulah kondisi di kelas akan menjadi ayem, rasa ingin tahu jadi kurang. Jika tidak ada dari siswa mulailah dari guru, rangsang siswa untuk merespon setiap pertanyaan yang diajukan. Respon siswapun bisa di jadikan pertanyaan balik sehingga suasana kelas menjadi hidup. Jika sudah seperti itu waktu 2 x jam pelajaran sepertinya akan kurang.

5. Jadilah pendengar yang baik

Pendengar yang baik dimaksudkan ketika siswa menyampaikan sesuatu ataupun pendapatnya maka hargailah pendapat itu. Biarkan siswa mengembangkan pemikirannya. Ingat semua adalah berawal dari hal yang kecil, jika hal yang kecil itu kita terus manfaatkan tentu kedepannya akan menjadi sesuatu yang besar.

6. Memiliki sense of humor

Humor juga sangat penting terutama di saat siswa merasa jenuh, tertekan, tidak konsen kalau itu dipaksakan tentu pencapaiannya akan kurang maksimal. Humor bisa dijadikan senjata untuk memecah kepenatan. Guru dikatakan humor ketika bisa membawa siswanya untuk tertawa. Dengan tertawa maka sejenak pori-pori ketegangan akan terpecah yang akan membawa pada keluwesan kembali.

7. Memberikan perhatian as a humon being kepada siswa

Perhatian kepada siswa itu dilakukan dari awal sampai akhir sehingga siswa pun akan merasa di hargai oleh gurunya.

8. Mendorong berpikir rasional, kritis, dan kreatif

Ketika ada jawaban atau pendapat salah dari siswa, mengajaknya berpikir secara rasional adalah jawabannya dengan begitu maka siswa bisa menyadarinya yang akan membawanya untuk bisa berpikir krtiis, dan kreatif.

9. Selalu siap membantu siswa

Kesiapan seorang guru boleh dikatakan siaga dalam 1 x 24 jam. Baik ketika belajar maupun pada saat istirahat apapun permasalahan siswa haruslah diselesaikan dengan cara yang damai. Kenyamanan dalam suasana lingkungan belajar haruslah tetap terjaga.

10. Memberikan penilaian yang adil

Adil adalah salah satu point penting yang harus terus dilaksanakan. Tidak memandang kaya miskin, anak pejabat atau buruh. Ketetapan aturan sesuai peraturan akademis di sekolah masing-masing haruslah sebagai pedoman yang dipatuhi setiap warga sekolah.

Contoh peraturan Akademis bisa di lihat disini


Demikianlah 10 hal penting yang harus dikuasai untuk menjadi pengajar yang baik.
Semoga ada manfaat bagi sahabat para onklik baca.

Thursday, 1 December 2016

4 Hal yang Wajib Ada dalam Pengolahan Hasil Belajar Siswa SD

Onklikbaca.com : Sahabat setia onklik baca khususnya para guru seprofesi. Pada tanggal 10 Desember 2016 yang sebentar lagi datang akan menjadi ajang para siswa untuk melihat hasil belajarnya yang ditempuh selama 1 semester.

Bukan hal yang mudah bagi guru untuk menentukan hasil para siswanya jika guru belum mempersiapkan / megumpulkan data-data otentik.

Seperti apakah data-data otentik itu? ayo kita simak

1. Ulangan Harian

Ulangan harian yang dimaksud adalah ulangan yang dilakukan setiap KD berakhir yang tujuannya tentu untuk mengukur/mengevaluasi kemampuan siswa dalam mencapai setiap kompetensi tersebut.

Ukuran yang dipakai tentunya berdasarkan KKM yang telah dibuat sebelumnya. Dimana KKM itu bukan KKM mata pelajarannya tetapi KKM pada setiap KD yang telah dibuat. KKM KD bisa saja tidak akan sama dengan KKM mata pelajaran itu sendiri.

Jika pada seorang siswa ada yang belum mencapai target sesuai KKM KD yang telah dibuat, itu berarti anak tersebut belum mencapai ketuntasan. Maka sepatutnyalah anak tersebut harus dilakukan remedi.

Bisa dengan tugas atau dengan mengulang yang belum mereka kuasai. Gunakanlah tes yang berbeda namun masih mengarah ke tujuan KD tersebut.

2. Ulangan Tengah Semester

Ulangan Tengah Semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa setelah melaksanakan 8 _ 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.

3. Tugas

Tugas yang dimaksud bisa saja tugas mandiri, kelompok, proyek, atau yang lainnya. Untuk tugas tidak semua KD mesti dicapai seperti tugas proyek tentunya membutuhkan waktu lama dalam pengerjaannya.

5. Ulangan Akhir Semeter

Ulangan Akhir Semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester satu. Cakupan ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan semua KD pada semester satu.

Ulangan Akhir Semester dapat berbentuk tes tertulis, lisan, praktek/perbuatan, tugas, atau produk.
Dari keempat data yang ada barulah di olah oleh para guru menjadi suatu nilai akhir hasil belajar siswa yang dibuat dalam bentuk laporan pendidikan sebagai bukti bahwa para siswa dengan benar melaksanakan pembelajaran di sekolah tersebut.

Juga sebagai kontrol orang tua terhadap anaknya dengan melihat hasil belajarnya. Seperti apakah pendidikan yang ditempuh oleh putra-putrinya selama bersekolah.

Hal-hal yang harus diketahui guru dalam pengolahan hasil belajar siswa SD

Agar apa yang dilakukan guru benar-benar bisa dipertanggung jawabkan maka harus memperhatikan hal-hal berikut :

1. Valid/Sahih

penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinili dengn menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi sehngga penilian tersebut menghasilkan informasi yang akurat tentang aktifitas belajar.

2. Obyektif

penilaian yang bersifat obyektif tidak memandang dan membeda-bedakan latar belakang peserta didik, namum melihat kompetensi yang dihasilkan oleh peserta didik tersebut, bukan atas dasar siapa dirinya.

3. Adil

peserta didik berhak memperoleh nilai secara adil, penilaian hasil belajar tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, fisik, dan gender.

4. Terbuka

Penilaian harus bersifat transfaran dan pihak yang terkait harus tahu bagaimana pelaksanaan penilian tersebut, dari aspek apa saja nilai tersebut didapat, dasar pengambilan keputusan, dan bagaimana pengolahan nilai tersebut sampai hasil akhirnya.

5. Bermakna

Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki arti, makna, dan manfaat yang dapat ditindaklanjuti oleh pihak lain, terutama pendidik, peserta didik, orang tua, dan masyrakat.

6. Mendidik

Penilaian hasil belajar harus dapat mendorong dan membina peserta didik maupun pendidik untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan cara memperbaiki kualitas belajar mengajar.

7. Menyeluruh,

Penilaian diambil dengan mencakup seluruh aspek kompetensi peserta didik dan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, termasuk mengumpulkan berbagai bukti aktivitas belajar peserta didik.

8. Berkesinambungan,

Pelaksanaan penilaian hasil belajar dilakukan secara terencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar peserta didik.

9. Akuntabel

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggung jawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

Monday, 21 November 2016

Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Guru Pintar

Onklikbaca.com : Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri.

Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru.

Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan.


Baca juga : Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Keuntungan Model Pembelajaran Penemuan
  1. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
  2. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
  3. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
  4. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
  5. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru
  6. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar
  7. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.

Kelemahan Model Pembelajaran Penemuan
  1. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
  2. Metode ini tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
  3. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
  4. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
  5. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berfikir yang akan ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

A. Langkah-langkah Operasional
  1. Menentukan tujuan pembelajaran.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa siswa (kemampuan awal. minat, gayabelajar, dan sebagainya)
  3. Memilih materi pelajaran.
  4. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
  5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa f.
  6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
B. Pelaksanaan

1. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri.

Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

2. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)

3. Data collection (Pengumpulan Data).

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).

Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.

4. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.

Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

5. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).

Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi

7. Sistem Penilaian

Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes.

Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis.

Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan

Artikel terkait : Model Pembelajaran Berbasis Proyek

Sunday, 20 November 2016

Belajar Siswa Perlu di Tune Up / Guru Pintar

Onklik Baca : Siswa adakalanya akan merasa jenuh dalam menerima pembelajaran. Apalagi masih kurangnya pemahaman guru tentang model-model pembelajaran yang bisa di manfaatkan. Bisa di bayangkan kan bagaimana nanti hasil belajar siswa jika apa yang diharapkan sebagai seorang guru tidak terpenuhi sesuai harapan.

Untuk itu salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan Tune Up kepada siswa. (haha kayak mobil aja di tune up).

Analog seandainya kita memasak soto ayam, alat yang kita pakai seperti panci tidak di bersihkan dipakai lagi untuk memasak kue. bisa jadi rasanya kue rasa soto demikian juga para siswa sehabis belajar matematika jika otaknya tidak di bersihkan di pakai lagi belajar PKn nantinya yang ada di otak siswa PKn rasa matematika. Untuk itu perlu dibersihkan atau di Tune Up, Nah bagaimana caranya?

Yang paling mudah bisa di lakukan adalah berdoa, selain itu juga bisa bernyayi atau permainan - permainan kecil yang bisa menyegarkan otak siswa. Disini onklikbaca perkenalkan Permainan Matematika sekiranya siswa bisa lebih segar untuk melaju ke pembelajaran berikutnya:

PERMAINAN MATEMATIKA MENEBAK UMUR

Andai kata kita akan menebak umur seseorang umurnya 60 tahun ke bawah. Susunlah bilangan-bilangan 1,2,3,...,60 itu dalam 6 kartu sebagai berikut:

permainan menebak umur

Mintalah orang yang akan di tebak umurnya itu meneliti bilangan-bilangan yang tertulis pada kartu-kartu itu. Dan supaya ia mengatakan "ya" seandainya umurnya tercantum pada kartu-kartu itu, dan mengatakan "tidak" seandainya umurnya tidak tercantum.

Andaikan ia mengatakan "ya" untuk kartu-kartu bernomer I, III, dan V. Maka umur orang itu adalah 21 tahun.

Ini diperoleh dengan cara menjumlahkan bilangan-bilangan pada sudut kiri atas dari setiap kartu yang ia sebutkan "ya" yaitu 1 + 4 + 16 = 21. Sedangkan untuk menebak umur-umur yang lain juga dilakukan sedemikian rupa dengan paparan di atas tadi.

Artikel terkait : Konsep Hitung Pembagian Pecahan

Demikian sekiranya semoga bermanfaat

Wednesday, 16 November 2016

Model Pembelajaran Berbasis Proyek dalam Guru Pintar

Onklikbaca.com : Model pembelajaran berbasis proyek dalam bahasa Inggris disebut Project Based Learning yang dapat pula disingkat PjBL. Berdasarkan namanya itu dapatlah kita mengetahui bahwa model pembelajaran ini merupakan sebuah model pembelajaran yang didesain berdasarkan pada sebuah tugas proyek yang harus dikerjakan oleh siswa melalui kegiatan pembelajaran.

Definisi Konsep

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learnig) adalah metoda pembelajaran menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Siswa melakukan eksplorasi, penilaian, sintesis, interpretasi, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.

Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.

Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek

1. Meningkatkan motivasi belajar siswa didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai.

2. Membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.

3. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

4. Meningkatkan kolaborasi.

5. Mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktekkan keterampulan komunikasi.

6. Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber.

7. Menyediakan pengalaman belajar dengan melibatkan siswa secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyatanya.

8. Memberikan pengalaman kepada siswa pembelajaran dan praktek dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.

9. Melibatkan siswa untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata.

10. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan sehingga siswa maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek

1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.

2. Membutuhkan biaya yang lumayan banyak.

3. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di kelasnya.

4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.

5. Siswa yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.

6. Ada kemungkinan siswa kurang aktif dalam kerja kelompok.

7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan siswa tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.

model pembelajaran berbasis proyek

Langkah Operasional

Sistem Penilaian

1. Penilaian Proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode atau kurun waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.

2. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan mengiformasikan siswa pada mata pelajaran tertentu secara jelas.

Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam Penilaian Proyek

1. Kemampuan Pengelolaan
Kemampuan siswa dalam memilih topik mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.

2. Relevansi
Kesusuain dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman, dan keterampulan dalam pembelajaran.

3. Keaslian
Proyek yang dilakukan siswa harus merupakan hasil karyanya dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek siswa.

Baca Juga : Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Namun sebelum melakukan Model Pembelajaran Berbasis Proyek para guru harus mengetahui sintak dari PjBL itu sendiri :

1. Penentuan pertanyaan mendasar
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan siswa dalan melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan relevan untuk para siswa.

2. Mendesain Perencanaan Proyek
Siswa diberikan kemandirian untuk berkreasi mendesain perencanaan proyek yang akan mereka lakukan. Siswa bekerja secara berkelompok untuk membuat sebuah perencanaan bagaimana proyek mereka dilaksanakan.

Tentunya bantuan guru diperlukan untuk menjaga agar proyek mereka direncanakan rasional dan logis serta bermanfaat bagi pembelajaran.

3. Menyusun Jadwal
Walaupun pembelajaran berbasis proyek memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berkreasi menentukan bagaimana proyek mereka dibuat dan dilaksanakan, mereka tetap harus membuat sebuah jadwal untuk menjaga agar proyek dapat terselesaikan secara baik dengan menggunakan waktu yang efektif.

Di sinilah kemampuan berpikir siswa juga dilatih untuk kritis dan pandai memperkirakan hal-hal apa yang perlu mereka lakukan untuk persiapan, pembuatan, hingga proyek mereka dapat terselesaikan tanpa harus molor dari batas waktu yang telah ditetapkan guru.

4. Memonitor Kemajuan Proyek
Guru dan siswa (kelompok siswa) harus memonitor kemajuan proyek yang mereka buat. Apakah sudah berjalan sesuai rencana atau belum? Apa hambatan yang ditemukan? Lalu apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya?

Kemajuan proyek perlu terus dipantau oleh guru agar dapat memberikan bantuan tambahan jika memang diperlukan. Selain itu siswa juga harus belajar bekerja sesuai rencana jadwal yang mereka buat, apakah semuanya sudah berjalan dengan baik.

5. Menguji Hasil
Guru, dalam pelaksanaan model pembelajaran berbasis proyek harus menguji (mengevaluasi) proses dan hasil belajar selama siswa melaksanakan proyek dan di akhir proyek. Keduanya sangat penting agar nantinya guru dapat memberikan umpan balik, penguatan, bantuan, fasilitasi, dan sejenisnya.

Kemudian guru juga tetap harus mengevaluasi bagaimana perolehan hasil belajar siswa baik dari aspek sikap, keterampilan, maupun pengetahuan.

6. Mengevaluasi Pengalaman
Guru dapat membantu siswa untuk melakukan refleksi dalam tujuan membuat siswa terbiasa untuk selalu mengevaluasi pembelajaran proyek mereka.

Di akhir pembelajaran, selain guru melakukan penilaian (pengujian proses dan hasil belajar) baik dari aspek sikap, keterampilan dan pengetahuan, guru juga memfasilitasi siswa untuk berpikir dan mengingat kembali hal-hal terbaik apa yang telah dapat mereka buat selama mengerjakan suatu proyek lalu hal-hal apa yang masih perlu diperbaiki sehingga proyek mendatang yang akan dilaksanakan oleh mereka akan dapat berjalan dengan lebih lancar dan berhasil.

Sintak Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek

Langkah -1
Penentuan projek
Guru bersama dengan siswa menentukan tema/topik projek

Langkah -2
Perancangan langkah-langkah penyelesaian projek
Guru memfasilitasi siswa untuk merancang langkah-langkah kegiatan,penyelesaian projek beserta pengelolaannya

Langkah -3
Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek
Guru memberikan pendampingan kepada siswa melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah dirancangnya.

Langkah -4
Penyelesaian projek dengan fasilitasi dan monitoring guru
Guru memfasilitasi dan memonitor siswa dalam melaksanakan rancangan proyek yang telah dibuat

Langkah -5
Penyusunan,laporan dan presentasi/publikasi hasil projek
Guru memfasilitasi siswa untuk mempresentasikan dan mempublikasikan hasil,karya

Langkah -6
Evaluasi proses dan hasil projek
Guru dan siswa pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas proyek

Onklikbaca.com : Terimakasih

Monday, 14 November 2016

Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda Terkini dalam Guru Pintar

Onklikbaca.com : Soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri yang bermutu adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik.

Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid) dan handal. Sahih atau valid  maksudnya adalah bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu aspek saja. Misal : Penggaris hanya mengukur panjang, timbangan hanya mengukur berat, bahan ujian soal PKn hanya mengukur materi pembelajaran PKn bukan mengukur keterampilan/kemampuan materi yang lain.

Handal maksudnya adalah bahwa tiap alat ukur haruslah dapat memberi hasil pengukuran yang tepat, ajeg, dan cermat. Untuk dapat menghasilkan soal yang sahih/valid dan handal, penulis soal juga harus menyusun kisi-kisi dan menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang tepat (baik berbentuk objektif/pilihan ganda, uraian, atau praktek).

Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda

Menulis soal bentuk pilhan gandan sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilahan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitannya atau tingkat kesederhanaannya, serta panjang pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban yang ada.

Oleh karenanya untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda, maka penulisannya perlu mengikuti langkah berikut : (1) menuliskan pokok soal. (2) Menuliskan kunci jawaban (3) Menuliskan pengecoh.

Untuk memudahkan pengelolaan, perbaikan, dan perkembangan soal, maka soal ditulis di dalam format kartu soal. Setiap kartu soal ditulis di dalam satu frmat. Adapun formatnya bisa dilihat pada gb. dibawah.

Kartu Soal

Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda

A. Materi

1. Soal harus sesuai indikator
Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang ingin diukur sesuai dengan penyusunan indikator dalam kisi-kisi.

2. Pengecoh harus berfungsi.

3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar.

Contoh :

Indiktor : Siswa dapat menentukan obyek kalimatnya.

Soal :
Ayah sedang membaca majalah di ruangan depan.
Jenis kata obyek kalimat di atas adalah ....
A. kata keterangan
B. kata benda
C. kata sifat
D. kata kerja

B. Konstruksi

1. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi.
Artinya, semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal, penulisannya juga harus setara, dan semua pilihan jawaban berfungsi sesuai pokok soal.

Contoh soal :

Sebuah pensil dimasukkan ke dalam gelas berisi air maka pensil terlihat patah. Hal ini terjadi karena adanya peristiwa ....
A. penguraian cahaya
B. perambatan cahaya
C. pembiasan cahaya
D. penguapan air

2. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan, maka rumusan atau pernyataan itu di hilangkan saja.

Contoh Soal :

Dewan perwakilan rakyat merupakan lembaga tertinggi negara RI. Penulisan singkatan dewan perwakilan rakyat yang benar terdapat dalam kalimat ....
A. Para Anggota D.P.R sedang rapat
B. Para anggota D.P.R. sedang rapat.
C. Para anggota DPR. sedang rapat.
D. Para Anggota DPR sedang rapat.

3. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Artinya, pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata ataupun lebih yang mengandung makna negatif. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran siswa terhadap arti pernyataan yang dimaksud.

Untuk keterampilan bahasa, penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur justru pengertian tentang negatif ganda itu sendiri.

Contoh Soal:
Penggunaan kata depan pada kalimat di bawah ini tidak benar kecuali....
A. bekerja lebih baik dari diam
B. cincin daripada ibunya hilang kemarin
C. buku Ani lebih tebal daripada buku Siti.
D. Bandung lebih ramai dari Solo

4. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan siswa untuk  memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban.

Contoh Soal :
Faktor-faktor yang diperlukan dalam fotosintesis adalah ....
A. karbon dioksida dan air.
B. karbon dioksida dan klorofil.
C. klorofil dan cahaya matahari.
D. karbon dioksida, air, klorofil, dan cahaya matahari.

5. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar".
Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini, maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen.

Contoh Soal :
Kalimat dibawah ini yang menggunakan kata depan secara tepat adalah ....
A. Bekerja lebih baik dari diam.
B. Bandung lebih ramai dari Purwokerto.
C. Cincin daripada ibunya hilang kemarin.
D. Semua pilihan jawaban di atas salah.

6. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya dari nilai angka yang terdapat atau kronologis kejadian.
Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar, dan sebaliknya. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban.

Contoh Soal :
Banyaknya hari bumi beredar mengelilingi matahari dalam satu kali putaran adalah ....
A. 366 hari.
B. 360 hari.
C. 365 1/4 hari.
D. 365 1/2 hari.

C. Bahasa/Budaya

1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi:

a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek, (2) unsur predikat, (3) anak kalimat;
b) pemakaian kata: (1) pilihan kata, (2) penulisan kata, dan
c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf, (2) penggunaan tanda baca.

Contoh Soal :
Tanaman pisang alat reproduksinya adalah ....
A. umbi batang
B. tunas
C. biji
D. akar rimpang

2. Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
Letakkan kata/frase pada pokok soal.

Contoh Soal :
Ketika gunung itu meletus, sebagian penduduk di sekitarnya mulai mengungsi. Kata mengungsi berarti ....
A. pergi menyelamatkan diri ke tempat yang dekat.
B. pergi menyelamatkan diri ke tempat yang jauh.
C. pergi menyelamatkan diri ketempat yang sejuk.
D. pergi menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

Demikianlah bagi para pembaca semoga ada manfaatnya :

Sunday, 13 November 2016

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) Guru Pintar

Onklik baca : Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam pembelajaran berbasis masalah peserta didik bekerja dalam bentuk tim untuk memecahkan permasalahan di dunia nyata (real world)

Kelebihan PBL

1. Dengan Problem Based Learning akan dapat menimbulkan pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka akan menerapkan pengetahuan yang dimiliki atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin punya makna dan dapat dikembangkan ketika peserta berhadapan dengan kondisi di mana konsep diterapkan.

2. Dalam situasi Problem Based Learning peserta didik dapat  mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilannya secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.

3. Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, memotivasi di dalam kelas untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan antarteman dalam bekerja kelompok.

Langkah-langkah Operasional dalam Proses Pembelajaran PBL

1. Konsep Dasar (Basic Concept)
Fasilitator memberikan konsep dasar, referensi, petunjuk,  atau link dan skill yang dibutuhkan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksud agar peserta didik lebih cepat masuk dalam konsep pembelajaran dan mendapatkan 'peta' yang akurat tentang arah  pembelajaran.

2. Pendefinisian Masalah (Defining the Problem)
Dalam langkah ini fasilitatator menyampaikan permasalahan dan siswa guna melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan ide, pendapat dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan timbul berbagai alternatif pendapat.

3. Konsep Dasar (Basic Concept)
Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Problem Base Learning
Peserta didik dapat mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas masalah yang sedang di selidiki. Sumber yang dimaksud dapat berbentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpus, halaman web, atau pakar dalam bidang yang relevan.

Dalam tahap menyelidiki memiliki 2 tujuan utama, yaitu (1) agar peserta didik mampu mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang sesuai dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelasnya, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dikomunikasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami oleh semua orang.

4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge))
Setelah mendapatkan sumber untuk kebutuhan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya para siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan cara pemecahan dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara para siswa berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya.

Contoh Penerapan

1. Sebelum memulai proses pembelajaran di kelas, para siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu kejadian terlebih dahulu. Kemudian para siwa diminta mencatat masalah-masalah yang muncul dalam kejadian tersebut.

2. Berikutnya tugas guru adalah meransang para siswa untuk dapat berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru selanjutnya mengarahkan para siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

3. Memanfaatkan lingkungan para siswa untuk mendapat pengalaman belajar. Guru memberikan penugasan yang bisa dilakukan di berbagai konteks di lingkungan para siswa baik di sekolah, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

4. Penugasan yang diberikan oleh guru dapat memberikan kesempatan kepada para peserta untuk belajar diluar kelasnya. Para siswa diharapkan juga dapat memperoleh pengalaman langsung terkait apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar adalah aktivitas belajar yang harus dilakukan para siswa dalam rangka mencapai penguasaan (SK) Standar Kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

Tahapan - tahap Model Problem Based Learning

FASE-FASE DAN PERILAKU GURU

Fase 1
Orientasi para siswa kepada masalah

Prilaku Guru
Menjelaskan tujuan belajar
Memotivasi para siswa untuk bisa terlibat aktif dalam memecahkan masalah.

Fase 2
Mengorganisasikan para siswa

Prilaku Guru
Membantu para siswa mendefinisikan  tugas belajar yang berhubungan dengan masalahyang ditemui.

Fase 3
Membimbing dalam penyelidikan individu maupun kelompok

Prilaku Guru
Mendorong para siswa untuk mengumpulkan berbagai informasi yang sesuai, melaksanakan percobaan untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah yang di hadapi

Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya yang sudah dibuat

Prilaku Guru
Membantu para siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti pada laporan,
model dan berbagi tugas dengan teman-temanya.

Fase 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses  permasalahan

Prilaku Guru
Mengevaluasi hasil belajar para siswa tentang materi yang sudah dipelajari.


5. Sistem Penilaian

1. Penilaian dilakukan dengan memadukan 3 aspek yaitu  pengetahuan, kecakapan, dan sikap. Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup semua kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester, kuis, Pekerjaan Rumah, dokumen, dan laporan.

2. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran. Sedangkan penilaian terhadap sikap di titik beratkan pada penguasaan sikap, yaitu keaktifan dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot ataupun skor penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru yang bersangkutan.

3. Penilaian pembelajaran dengan Problem Based Learning dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian bisa dilakukan dengan portofolio yaitu kumpulan pekerjaan yang sistematis dari para siswa untuk dianalisis yang tujuannya adalah melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu. Penilaian dalam pendekatan Problem Based Learning dilakukan dengan cara melakukan evaluasi diri yaitu self-assessment dan peer-assessment.

4. Penilaian yang dilakukan oleh pembelajar sendiri terhadap usaha dan hasil kerjanya dengan merujuk pada tujuan yang ingin diharapkan.

5. Penilaian dimana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugasnya yang telah dilakukan sendiri maupun oleh teman kelompoknya


Baca Juga :
Ciri-ciri bilangan yang habis dibagi 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8,dan 9
Konsep hitung pembagian pecahan

Monday, 7 November 2016

Permainan Matematika yang Menyenangkan dalam Mencari KPK dan FPB

Kali ini Onklik baca akan berbagi tentang bagaimana cara mencari KPK ataupun FPB dengan konsep permainan yang menyenangkan.

Apa itu KPK?
Seperti yang sudah kita kenal KPK itu adalah Kelipatan Persekutuan Terkecil. Berbicara tentang persekutuan tentulah minimal harus ada 2 bilangan yang akan di cari sebagai persekutuaanya. Dari  persekutuan itu yang terkecillah disebut sebagai KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil)

Manfaat belajar KPK?
Dalam kehidupan sehari - hari seringkali kita jumpai permasalahan terkait kelipatan atau suatu kasus yang dapat diselesaikan dengan KPK. Sebagai contoh : Untuk mengetahui jadwal kegiatan antara Anda dan teman Anda mungkin. Kapan bisa bertemu bersama lagi?

Misal : Dalam suatu kegiatan ekstrakurikuler renang. Wayan dan Made ditentukan punya jadwal sendiri oleh pelatihnya. Pada hari pertama mereka berdua memang bersama-sama dalam kegiatannya. Tapi setelahnya ditentukan dengan jadwal masing-masing yaitu Wayan di beri jadwal 4 hari sekali sedangkan Made 6 hari sekali. Jika hari pertama mereka bersama pada hari minggu, hari apa lagikah mereka akan berenang bersama lagi?

Disini bisa dibuat suatu cara yang menyenangkan agar permasalahan tersebut bisa di atasi:
permainanan menebak umur

Coba perhatikan tabel di atas!

Untuk menyelesaikan permasalahan di atas bisa dilakukan dengan menggunakan tabel tersebut. adapun langkah-langkahnya

Tentukan kelipatan dari 4 dan 6 terlebih dahulu
Kelipatan 4 adalah 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 36,…dst
Kelipatan 6 adalah 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, …dst

Beri tanda yang berbeda ; kelipatan – kelipatan tersebut pada table angka. Untuk kelipatan kelipatan lingkari angkanya dengan warna biru dan kelipatan-kelipatan 6 gunakan segitiga berwarna merah

Perhatikan angka yang mempunyai 2 simbol sekaligus, itulah kelipatan persekutuannya. Dari persekutuan yang di dapat yang terkecilah disebut sebagai KPK. Maka mereka akan bertemu lagi bersama pada KPK yang telah didapat.

Dengan demikian anak akan merasa lebih menyenangkan untuk mencari permasalahan lainnya yang tentunya juga akan dapat menguatkan konsep matematikanya.

Sedangkan untuk FPB juga bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti di atas dengan menentukan faktor-faktor terlebih dahulu.

Yang paling penting dalam permasalahan FPB adalah mempunyai ciri khas yaitu terdapat kata "paling banyak" atau Maksimal" pada pernyataanya.

Baca juga Konsep Pembagian Pecahan

Wednesday, 2 November 2016

Media Pembelajaran Slide Master Keren Lengkap Gambar dan Langkahnya

Onklik baca : Guru sangatlah punya andil besar dalam setiap pengemasan pembelajaran supaya dapat mencapai hasil yang maksimal sesuai tujuan. Guru yang Santi (Santun dan Inovatif) sangatlah dibutuhkan sekarang ini. termasuk dalam pengembangan bahan ajar yang sudah di share terlebih dahulu di blog onklikbaca.com ini. Kali ini akan memperkenalkan bagaimana membuat sebuah media pembelajaran dengan meggunakan slide master.

Berikut langkah-langkanya :
  • Tentunya komputer anda sudah di instal Microsof Power Point bukan? Jika belum harus di instal dulu.
  • Buka Power Point - buka tab view - slide master
  • Pada Slide no 2.klik background akan muncul pilihan klik Gradien fill.
  • Dibawah pada stop 1 pilih colour silahkan di pilih warnanya. Jika sudah pilih stop 3 pilih colour yang disukai, berikutnya stop 2 lakukan seperti yang tadi, warnanya sudah berubah kan? Jika sudah klik close.
  • Kliki box yang ada di atas tulis topik/judul, Mata Pelajaran, dan Kelas sedangkan bok ke 2 dihapus.
  • Berikutnya buka slide 3. Klik box atas hapus kemudian buat box baru yang berisi topik/judul, Mata Pelajaran sasaran. Sedangkan box yang bawahnya di atur garis yang paling kiri di geser kekanan karena di kirinya kita akan membuat beberapa box baru yang bertuliskan box 1 (penyegaran) box 2 (ilustrasi) box 3 (mendiskusikan) box 4 (mendalami) box 5 (menyimpulkan) nox 6 (mempresentasikan) box 7 (vidio dan audio) lihat gb.
  • Buat box lagi kemudian letakkan di box yang digeser tadi warnai itu supaya putih lalu klik kanan di box tersebut klik sent to back - sent to back.
  • Silahkan simpan kemudian klik view klik close master view
  • Selanjutnya klik new slide pilih yang baru anda simpan tadi, silahkan di copy dulu slidenya sebanyak box yang di buat tadi. (7 box)
  • Jika sudah cukup sekarang tuliskan tiap slide sesuai kata yang ada di box tadi. Catatlah nomer slide sesuai urutannya.
  • Kembali lagi ke slide master untuk membuat hiperlink nya. Caranya klik kotaknya persis seperti gambar di bawah lalu klik kanan cari hiperlink.
  • Pilih hiperlink to pada next slide pilih slide... maka akan muncul pilihan slide mana yang akan di pilih jikasudah klik ok. Ingat jangan salah pilih ya biar gak alamatnya nyasar ketempat lain. Demikianlah seterusnya sampai setiap box mempunyai alamat yang benar. Kemudian save.
  • Langkah terakhir kembali ke normal caranya klik close slide master. Isilah sekarang sesuai perencanaan Bapak/Ibu yang akan dibuat karena template sudah siap digunakan.
Untuk cara menyisipkan gambar membuat animasi atau menyisipkan vidio silahkan temukan sendiri. Penulis yakin Anda pasti bisa,

Dengan adanya media pembelajaran seperti yang sudah dijelaskan di atas pastilah sangat baik dalam menumbuhkan keaktifan siswa. Rasa bosan, rasa ngantuk dalam pembelajaran mungkin bisa teratasi dengan mudah.

"Salam Sukses"

Baca Juga : Cara membuat soal pilihan ganda interaktif

Monday, 31 October 2016

Konsep Hitung Pembagian Pecahan Secara Benar

Onklik baca : Untuk bisa memahami matematika secara benar agar bisa bekerja secara sistematis konsep adalah hal yang terpenting. Tidak bisa kita memahami setengah - setengah. Disni penulis akan khusus membahas tentang bagaimana sebenarnya konsep pembagian pecahan secara benar.

Berdasarkan pengalaman, yang di ketahui anak - anak SD pada dasarnya hanya tahu bahwa dalam melakukan hitung pembagian pecahan cukup mudah dengan membalik pembaginya, ( 3 per lima menjadi 5 per tiga ) padahal kalau diteliti tidak sekedar seperti itu.

Ada urutan logis yang harus dipahami sebelum mengarah kesana. Dalam kasus ini anak tidak bisa menjelaskannya. Mungkin karena faktor guru yang  tidak menjelaskan atau memang tidak tahu.

Konsep hitung pembagian pecahan

Baiklah para pembaca setia dibawah ini akan dijelaskan secara detail konsep hitung pembagian bilangan pecahan :

Misalkan suatu contoh kita akan menghitung bilangan 3 : 6 = ....

3 : 6 itu bisa di ubah menjadi 3 per enam selanjutnya 3 per 6 juga bisa diubah menjadi 3 kali 1 per enam
3 : 6 = 3/6 =====> 3/6 = 3 x 1/6

Kemudian langkah selanjutnya perhatikan pula seperti gb. di bawah tiga juga bisa diubah menjadi tiga per satu
3 x 1/6 = 3/1 x 1/6 =====> 3/6 di ubah menjadi 3/1 : 6/1

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa
3/1 : 6/1 = 3/1 x 1/6 =====> 3/1 x 1/6 = 3/6 = 3 : 6

Jadi dari hasil proses yang demikiannlah bisa disimpulkan bahwa dalam pembagian pecahan bentuk hitungnya di ubah menjadi perkalian dengan mengubah pembaginya kebentuk kebalikan pecahan tersebut seperti di atas

Semoga Bermanfaat Bagi Pembaca

Saturday, 29 October 2016

Bagaimana Menjadi Guru Inspiratif

Pendidikan dianggap sebagai hal yang berlangsung sejak lama dan merupakan hal yang biasa-biasa saja seperti yang dulu. Untuk itu, ada sebagian guru masih cenderung untuk bersikap elitis dengan selalu mengagungkan kekuasaan dan menganggap dirinya sebagai sumber yang "serba bisa". Padahal pola ini sudah tidak lagi relevan dan memerlukan kesadaran untuk berubah.

Keberadaan pola ini dapat menyebabkan tidak adanya perubahan dalam dunia pendidikan. Sebagai dampaknya, hasil anak didikan yang menjadi output hanya memiliki kemampuan yang sama atau kurang dari yang dimiliki oleh gurunya.

Bagaimana menjadi guru inspiratif

Guru bukanlah sekedar hanya mentransfer ilmunya tetapi lebih dari itu memberikan didikan dan menjadi inspirasi tersendiri pada siswa untuk belajar sehingga ketika ia mengajar siswa merasa senang dan termotivasi untuk selalu mengikuti pelajaran dengan sebuah konsekuensi bahwa apa yang diajarkan itu merupakan hal yang menarik dan dapat dipahami siswa.

Pada ranah demikian , guru dituntut untuk selalu membenahi diri untuk selalu mengerti kebutuhan siswa dan mengupayakan agar siswa tidak merasa jenuh sehingga seolah-olah di penjara dalam sekolah.

Bagaimana seharusnya peran guru? Untuk menjadi guru yang inspiratif ini memang tidak mudah karena dirinya harus membawa sesuatu yang tidak biasanya, mampu menembus batas tradisi, dan kreatif.

Melihat kondisi sekolah umumnya di negara kita, guru memang terbelenggu oleh ketentuan administratif yang harus dipatuhi seperti target pencapaian pada kurikulum, ketuntasan belajar (KB), silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sesuai ketentuan yang telah ada bahwa wujud pelaksanaan pendidikan di sekolah tertuang dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler dan intrakurikuler.

Dalam kegiatan intrakurikuler tidak jarang guru dalam interaksinya terhadap para siswanya mampu mengembangkan potensi yang dimiliki mereka. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah mengembangkan secara menyeluruh  potensi anak didik melalui kreativitas dan bisa berpikir kreatif dan responsive.

Dengan demikian proses pendidikan yang ada di sekolah seharusnya tidak hanya selalu berorientasi pada aspek kognitif saja atau dengan kata lain mengacu pada nilai, tetapi juga harus dapat mengembangkan nilai-nilai lain seperti spiritual, kepribadian, emosional, dan sosial.

Dalam hal ini ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas yaitu:

Baca juga : Cara menghadapi kenakalan anak SD

1. Melalui Pendekatan Kecerdasan Emosion Emosional

Pada ranah inilah, guru sebenarnya dapat membangkitkan potensi para siswa untuk menempuh kesuksessan dengan mengembangkan rasa simpati dan empati kepada sesama, sifat kerja keras, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pendekatan emosional yang dapat dilakukan misalnya, dengan selalu menebarkan energi positif pada anak didik, toleransi terhadap ketidak sempurnaan, dan mencintai sepenuh hati para siswa dengan perbedaan yang telah dimiliki.

2. Melalui Pendekatan Kecerdasan Spiritual.

Pada ranah pendekatan ini, yang harus dilakukan guru adalah meningkatkan potensi para siswa dengan membangkitkan spiritual dan tata krama dengan cara menanamkan nilai-nilai kebenaran yang terkandung dalam Agama.

3. Melalui Pendekatan Kecerdasan Sosial.

Guru dapat menanamkan pada siswa perlunya menyadari bahwa latar belakang mereka berbeda-beda baik suku, bahasa, agama bahkan tingkat ekonominya, tetapi di sisi lain manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri.

Oleh karena itu penting untuk mengembangkan sikap kerja sama, simpati, empati, tenggang rasa, dan budi pekerti yang luhur pada setiap para siswa. Cara yang dilakukan dengan mempraktekkan 5 S ( senyum, sapa, salam, sabar, dan syukur)

Melalui tiga pendekatan tersebut, guru dapat menjadi inspirasi bagi setiap anak didiknya. Hal ini dilakukan agar kedepannya anak didik dapat sukses dalam kehidupannya baik ketika dia bekerja  maupun ketika ia menjadi seorang pemimpin.

Sumber : Elin Rosalin

Friday, 28 October 2016

Mengapa Guru Perlu Mengembangkan Bahan Ajar

Terdapat berbagai alasan mengapa para guru harus perlu mengembangkan bahan ajar di dalam setiap memberi pelajaran, yakni antara lain : ketersedian bahan sesuai dengan tuntutan kurikulum, karakteristik, dan tuntutan pemecahan masalah belajar. Mengembangkan bahan ajar haruslah memperhatikan tuntutan kurikulum di jamannya, artinya bahan untuk belajar yang kita kembangkan harus mengacu pada kurikulum.

Pada kurikulum satuan tingkat pendidikan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) telah ditetapkan oleh pemerintah dengan adanya SK dan KD, namun bagaimana untuk mencapainya dan apa bahan belajar yang akan digunakan nantinya diserahkan sepenuhnya kepada para pendidik sebagai tenaga yang profesional.

Dalam hal ini, guru tentunya tiap kali akan mengajar / masuk kelas dituntut untuk selalu mempunyai kemampuan mengembangkan bahan belajar sendiri. Untuk mendukung kurikulum yang berlaku, sebuah bahan ajar bisa saja menempati pada  posisi sebagai bahan ajar pokok atau suplementar.

Bahan ajar pokok adalah bahan ajar yang memenuhi tuntutan utama pada kurikulum. Sedangkan bahan ajar suplementar dimaksudkan adalah bahan ajar untuk menambah, memperkaya,  ataupun memperdalam isi kurikulum di dalamnya.
Mengapa guru perlu kembangkan bahan ajar

Apabila bahan ajar ingin sesuai dengan tuntutan kurikulum sulit ataupun tidak diperoleh, maka membuat bahan belajar sendiri merupakan suatu keputusan yang sangat bijak.

Untuk mengembangkan bahan ajar, referensi dapat diperoleh dari berbagai sumber baik itu berupa pengetahuan, pengalaman sendiri, ataupun penggalian informasi dari narasumber baik orang ahli ataupun teman sejawat yang biasa di ajak berdiskusi.

Demikian pula referensi dapat diperoleh dari buku-buku, media masa, internet, dan lain-lain dengan cukup mudah. Namun demikian, kalaupun bahan yang sesuai dengan kurikulum cukup melimpah bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan bahan sendiri paling tidak bisa dengan memadukan yang telah ada.

Bagi siswa, seringkali bahan yang terlalu banyak membuat mereka bingung untuk memilihnya, maka dari itu guru perlu membuat bahan ajar untuk menjadi pedoman bagi para siswa yang tercinta.

Selanjutnya, dalam mengembangkan bahan ajar harus dapat menjawab, memecahkan masalah ataupun mengatasi kesulitan dalam belajar. Terdapat sejumlah materi pembelajaran yang sering kali para siswa akan sulit memahaminya ataupun guru juga sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan tersebut bisa saja terjadi  karena materi tersebut rumit, abstrak, asing, dan yang lainnya.

Untuk mengatasi kesulitan ini maka guru perlu dapat mengembangkan bahan ajar yang tepat. Apabila materi pembelajaran yang akan disampaikan bersifat abstrak atau hayalan, maka bahan ajar harus mampu membantu siswa menggambarkan sesuatu yang abstrak tersebut menjadi seolah-olah nyata, misalnya dengan penggunaan gambar, foto, bagan, skema, dan lain-lain.

Demikian pula materi yang memang rumit, haruslah dapat djelaskan dengan cara yang se-sederhana mungkin sesuai dengan tingkat berpikir siswa sehingga menjadi mudah dipahami.

Bahan ajar disusun dengan tujuan:

1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan memperhatikan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar harus sesuai dengan karakteristik atau lingkungan sosial siswa di sekolahnya.

2. Membantu siswa memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku yang memang terkadang sulit untuk diperoleh.

3. Dapat memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelasnya sehingga belajar menjadi lebih nyaman dan efektif.

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat.

Baca juga : Bagaimana menjadi guru inspiratif